cerita-horor-cekam-di-bali

Cerita Horor Cekam di Bali – Bali, gak wajib dijelaskan panjang lebar ulang kecuali pulau ini merupakan salah satu tempat terindah di wajah bumi, eksotis di berbagai sisi.
Tempat target paling diidamkan oleh banyak wisatawan, didalam dan luar negeri. Terkenal termasuk dengan sebutan Pulau Dewata, tempatnya para Dewa.
Tapi gak dapat dipungkiri termasuk kecuali Bali punyai banyak cerita mistisnya. Salah satunya adalah momen yang dialami oleh salah satu teman kami berikut ini.

Cerita Horor Cekam di Bali

cerita-horor-cekam-di-bali

volunteerbangladesh.org – Aku Irene, tinggal dan bekerja di Jakarta, pernah mengalami momen menyeramkan yang gak masuk di akal.
Pengalamanku ini berawal saat dengan dua teman dekat berlibur ke Bali, gak memanfaatkan pesawat, kami memilih untuk mengendarai mobil, road trip istilahnya.
Aku, Bagus, dan Inda, kami bertiga sesungguhnya telah memiliki rencana ini sejak jauhari, telah direncanakan matang-matang, hotel dan tempat target wisata mana yang bakal dikunjungi telah ditentukan, pokoknya amat excited menantikan ini semua terlaksana.
Ya sudah, di bulan Juli 2017 kami berlibur ke Bali, yeay!
Walaupun selagi itu bukan pertama kalinya ke Bali, tapi selalu saja kami semangat dan penuh keceriaan, sebab ke depannya bakal menemui tempat wisata eksotis, pantai, gunung, dan lainya. Perjalanan darat dari Jakarta yang memakan selagi lumayan lama, gak termasuk sebabkan keceriaan luntur.
Waktu itu hari Rabu, kira-kira jam 12 siang kami telah sampai di Denpasar, di mana hotel tempat kami menginap nantinya berada.
Benar-benar perasaan yang mengasyikkan saat telah amat sampai di Bali, yang pada mulanya kami cuma merindukan alamnya, budayanya, orang-orangnya, makanannya, semuanya.
Tentu saja, sebagai wisatawan, di manapun berada, kami bakal selalu menghormati budaya dan orang-orangnya. Begitu termasuk Bali, yang amat kental dengan budayanya, punyai cii-ciri kedaerahan yang amat kuat, kami amat menghormatinya.

Setibanya di Bali, yang kami cari pertama kali adalah makan siang, tentu saja yang diincar adalah makanan khas setempat.
Setelah makan, kami baru bakal menuju hotel untuk beristirahat sejenak.
Hotel tempat kami menginap ini letaknya gak di sedang kota, tapi bukan yang di luar Denpasar juga. Sengaja gak melacak hotel mewah berbintang,
kami sengaja menginap di tempat yang sederhana tapi masih bagus dan layak, toh nantinya kami bakal lebih banyak di luar untuk jalan-jalan dari pada berada di hotel, jadi gak wajib bermewah-mewah.
Jam dua siang kami sampai di hotel.
Persis seperti didalam bayangan, hotel ini amat menarik, jauh dari kesan mewah tapi bagus dan amat “Bali”, kamarnya berbentuk seperti pondok-pondok kecil yang berdiri terpisah satu mirip lain, tapi letaknya masih berdekatan.
Tipikal bangunan yang ada di Bali, hotel ini termasuk sama, punyai patung-patung khas Bali yang di letakkan di banyak sudut, ukiran dan lukisannya termasuk amat mencerminkan Bali.
Kami tambah bahagia melihat itu semua, ditambah termasuk lingkungannya amat asri, banyak pohon rindang berdiri di didalam wilayah hotel yang lumayan besar ini. Nyaman, asri, dan indah.
Di sisa hari pertama, kami habiskan beristirahat, tapi pada malam harinya keluar untuk melacak makan dan tempat hang out.
Baru keesokan harinya kami habiskan selagi seharian untuk berwisata, jalan-jalan ke tempat menarik dan tentu termasuk ramai wisatawan.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Bola Online

Seperti telah banyak kami tahu, kecuali jalan-jalan di Bali kami bakal banyak melihat semacam sesajen kecil yang di letakkan di depan toko atau bangunan lainnya, kecuali di depan toko yang letaknya di tepi jalur biasanya bakal di letakkan di atas trotoar.
Sesajen ini biasa disebut dengan canang, memanfaatkan wadah terbuat dari janur yang isinya biasanya adalah kembang Rampe, bunga Gumitir, Pacak Air, Jepun, dan jajanan bungkus kecil.
Nah, saat sedang jalan-jalan ini kami termasuk melihat banyak canang, apa ulang di depan toko dan rumah makan, nyaris tentu ada.
Di siang menjelang sore, saat baru saja selesai makan di tempat Sanur, kami berjalan kaki ulang menuju kendaraan.
Pada selagi menuju mobil inilah berjalan sesuatu, Bagus yang selalu berjalan paling belakang secara gak sengaja menendang canang yang berada di depan salah satu toko. Walhasil, canang itu terpental dan isinya berserakan semua.
“Lo gimana sih Gus? Berantakan tuh, jalur lihat-liat dong.” Inda ngomel melihat itu semua.
“Gw gak sengaja, gak keliatan.” Jawab Bagus.
“Buruan lo beresin.” Aku turut menimpali.
“Iya, iya.” Jawab Bagus sambil berjongkok mengumpulkan ulang mengisi canang, selanjutnya membereskannya.
Tapi gak lama, Bapak pemilik toko yang mungkin sejak tadi telah melihat kelakuan Bagus, keluar menghampiri.
“Sudah, gak usah, biarkan saja.” Ucap Bapak itu ramah, sambil tersenyum.
“Maaf ya Pak, aku gak sengaja.” Kata Bagus lagi, selanjutnya dia melanjutkan merapihkan canang.
Setelah selesai dan sekali ulang berharap maaf kepada Bapak pemilik toko, kami melanjutkan perjalanan menuju mobil.
“Lo ada-ada aja sih Gus, make nendang sesajen segala, hahahahaha.” Begitu kata Inda saat kami telah berada didalam mobil, dia gak dapat mencegah tawa.
“Dibilang gw gak sengaja. Duuuh, semoga gak knapa-napa ya, gw kuatir niihh.” Kata Bagus.
“Ya emang bakalan ada apa deh? Ya gak bakal ada apa-apa lah.” Aku bilang begitu, meskipun ada sedikit perasaan was-was, entah apa penyebabnya.
Sorenya kami melanjutkan menuju satu tempat wisata, setelahnya bakal melacak makan malam di Denpasar.
Singkat cerita, malam menjelang, kami yang baru saja pulang dari tempat wisata di tempat utara agak kemalaman didalam perjalanan ulang ke Denpasar, jam sembilan kami masih di jalan, sebab itulah kelanjutannya menentukan makan malam di sedang perjalanan, di luar rencana.

Lalu kami berhenti di satu rumah makan khas Bali, kira-kira masih satu jam jaraknya dari Denpasar.
“Akhirnya, nemu restoran. Lapperr gw.” Bagus bilang begitu saat kami turun dari mobil.
Rumah makan ini gak besar, tapi gak kecil juga, cuma ada satu bangunan yang berdiri di lahan luasnya.
Bangunan yang lebih dari satu besar komponennya terbuat dari bambu, amat artistik.
Di halaman cuma ada kendaraan kami, gak ada kendaraan lain, menandakan kecuali pengunjung di dalamnya termasuk mungkin kosong.
Benar, saat telah berada di dalam, kami cuma melihat isinya cuma deretan meja dan kursi kosong, gak ada orang mirip sekali. Gak terlihat termasuk karyawan rumah makan ini, kosong.
“Ah sudahlah, duduk aja pernah yuk, nanti termasuk dateng Mas Mbak nya.” Begitu aku bilang, selanjutnya memilih salah satu meja masih di dekat pintu.
Benar apa kubilang tadi, gak berapa lama kemudian ada mas-mas berkunjung mendekat sambil tersenyum.
“Selamat datang, silahkan memilih menunya.” Begitu kata Mas itu sambil menyodorkan daftar menu.
Gak makan selagi lama, kami yang telah kelaparan sejak didalam perjalanan tadi langsung memesan makan.
Kemudian, sambil menunggu makanan berkunjung kami ulang berbincang.
“Sepi amat ini resto, apa sebab telah malem ya.” Begitu aku bilang.
“Iya, kosong gini gak ada orang tak hanya kita. Semoga sedap makanannya.” Bagus menimpali
“Kata siapa kosong, itu ada orang.” Tapi tiba-tiba Inda bilang begitu sambil agak berbisik, raut wajahnya menunjuk ke arah belakang tempat duduk aku dan Bagus.
Tentu saja, aku dan bagus langsung menoleh ke tempat di mana yang Inda maksud.
Benar loh, ternyata ada orang lain, ada yang sedang duduk sendirian di kursi yang letaknya nyaris di pojokan.
Ada perempuan duduk seorang diri, tapi di mejanya gak terlihat ada piring dan gelas kotor sisa makanan, bersih.
Dia duduk diam sambil seperti sedang membaca buku, menundukkan wajah. Pakaian perempuan itu terusan panjang berwarna putih corak.
“Aneh amat perempuan itu, sendiran, makan nggak minum nggak.” Bagus berbisik pelan.
“Yang punyai resto ini kali.” Begitu kata Inda.

Aku gak menimpali apa-apa, aku tambah berpikir keras kenapa tiba-tiba perempuan itu ada di belakang, padahal saat berkunjung tadi jelas-jelas kami gak melihat ada orang mirip sekali. Tapi entahlah..
Sekitar 30 menit kemudian, makanan datang. Sambil menyantap makanan, sesekali aku melirik ke belakang, perempuan itu masih ada, masih duduk di tempatnya.
Setelah kami selesai makan pun sama, dia masih ada, dan masih sendirian.
Tapi sehabis itu kami larut didalam pembicaraan seru, lupa gak memperhatikannya lagi.
Sesudah amat selesai, Inda kemudian membayar makanan ke kasir, selagi aku dan Bagus berjalan ulang menuju kendaraan.
“Serem amat ya perempuan tadi, duduk sendirian di pojokan, ngapain sih.” Kata bagus saat telah duduk di balik kemudi.
“Iya ngapain ya. Eh tadi gw lupa liat lagi, masih ada gak sih dia?” Ucapku.
“Gak tau, gw termasuk gak liat lagi, lupa.”
Gak lama, Inda datang, selanjutnya langsung masuk ke didalam mobil.
“Inda, lo liat perempuan itu gak sih? Masih ada gak dia? Kalo gw mirip Irene kan gak liat lagi, lupa.” Tanya bagus ke Inda.
“Tau gak sih lo, perempuan tadi tiba-tiba telah gak ada, gak tau ke mana, agak serem termasuk sih. Trus gw nanya dong ke Mas kasirnya, siapa perempuan yang duduk sendirian di pojokan tadi.
Trus Mas kasir bilang gak ada siapa-siapa di didalam dari tadi, cuma kami doang pengunjungnya, dia bilang gitu, serem gak sih. Ayok ah Gus, cabut ah, ngeri gw.” Begitu penjelasan Inda panjang lebar.
Bagus selanjutnya cepat-cepat mengendarai mobil, meninggalkan restoran itu. Agak seram juga.
Singkat cerita, kira-kira jam setengah sebelas kami sampai di hotel.
Oh iya, pondokan tempat kami menginap ini letaknya kira-kira 50 mtr. dari pintu masuk yang letaknya dekat parkiran, jadi wajib sedikit berjalan kaki untuk mencapainya.
Tapi, perjalanannya menyenangkan, kami menelusuri jalur setapak yang kanan kirinya banyak pepohonan dan lampu-lampu templok kecil, pokoknya indah dan gak membosankan.
Kamar kami yang berbentuk pondokan letaknya dekat dengan kolam renang, malam itu tentu saja telah gak ada tamu yang berenang.
Kamar kami termasuk luas, dua tempat tidur besar jadi tempat beristirahat yang nyaman. Aku dengan Inda dengan didalam satu tempat tidur, selagi Bagus tidur di kasur yang satu lagi.
Ya sudah, sebab seharian jalan-jalan berkeliling melelahkan, sehabis mandi kami semua langsung naik tempat tidur dan coba untuk tidur.
Benar, sehabis sedikit berbincang, kami langsung terlelap.
***
“Wah, Inda rajin sekali, shalat malam-malam begini.”
Keadaan masih gelap saat aku bilang begitu didalam hati, melihat Inda bermukena sedang mendirikan shalat dekat tv.
Walaupun kamar didalam situasi gelap, penerangan cuma bersumber dari cahaya lampu di luar, tapi aku masih dapat melihat dengan tahu kecuali Inda sedang shalat malam.
Lalu aku menggapai ponsel yang ada di atas meja, berniat untuk melihat jam, ternyata masih pukul satu dini hari, sehabis itu aku meletakkannya ulang ke tempat semula.
Sekilas aku masih melihat Inda berdiri shalat.
Lalu tanpa beban aku membuat perubahan posisi tidur, yang tadinya menghadap tempat tidur Bagus di sebelah kanan, jadi menghadap kiri, menghadap ke tempat Inda yang sedang berbaring.

Inda sedang berbaring? Hah?
Iya, ternyata ada Inda di sebelahku! sedang tidur juga!
Lalu siapa yang sedang shalat?
Kemudian, perlahan aku ulang menoleh ke depan tv, ke tempat di mana tadi aku melihat “Inda” sedang shalat.
Sosok yang aku kira sedang shalat itu masih ada, masih berdiri seperti tadi aku pertama kali melihatnya.
Ketika telah aku menyimak lebih seksama lagi, sosok yang tadi aku pikir adalah Inda ternyata bukan sedang shalat, tapi sedang berdiri diam didalam gelap dengan rambut tergerai panjang. Dan itu bukan Inda, sebab Inda sedang tidur di sebelahku.
Dalam remangnya cahaya, aku masih dapat melihat kecuali sosok itu mengenakan pakaian terusan warna putih bercorak, pakaiannya mirip dengan busana perempuan yang kami melihat di restoran selagi makan malam tadi.
Belakangan aku termasuk baru sadar, kecuali ternyata sosok seram itu bukan berdiri membelakangi, tapi tambah menghadap aku. Sepertinya, sepanjang lebih dari satu selagi kami saling berpadangan.
Aku tercengang didalam diam, tenggorokan tercekat gak dapat berkata-kata.
Aku merinding ketakutan, ada kuntilanak berdiri di didalam kamar.
Gak ada yang dapat dilakukan, aku cuma dapat menarik selimut perlahan, untuk menutup semua badan sampai kepala, termasik inda aku selimuti juga.
Aku gak berani melihat sosok seram itu lagi.
Tiba-tiba, Inda yang sejak tadi tidur menghadap dinding, perlahan membalikkan tubuhnya, ternyata dia termasuk gak tidur. Kemudian di didalam selimut kami saling berhadapan.
“Itu siapa di depan tv?” Tanyaku amat pelan.
“Gak tahu, serem Ren, gw takut, dari jam 12 tadi dia berdiri di situ.” Begitu jawab Inda.
Kemudian kami cuma berdiam diri ketakutan, nyaris menangis.
Hingga lebih dari satu menit berikutnya terdengar tawa cekikikan, suaranya keras, kami percaya sosok seram itu yang tertawa.
“Hihihihiih..” Begitu suaranya.
Tawa cekikikan itu terdengar dua kali, setalah itu gak lama kemudian kami mendengar suara pintu kamar terbuka, selanjutnya menutup ulang dengan bantingan keras, “Braakk!!”.
Kemudian situasi ulang hening..
Gak lama setelahnya, kami memberanikan diri keluar dari selimut untuk melihat situasi. Perempuan itu telah gak ada lagi.
Aku selanjutnya lari ke pintu selanjutnya menguncinya. Kemudian menyalakan lampu kamar.
Malam itu, aku dan Inda gak tidur sampai pagi menjelang.
***
Hai, balik ulang ke gw ya, Brii..
Sebenarnya masih banyak kisah seram yang tempat kejadiannya di pulau Dewata, tapi sebab halangan selagi jadi kami lanjut minggu depan aja ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *