cerita-horor-kabar-yang-mengagetkan

Cerita Horor Kabar yang Mengagetkan – Merry tetap saja berceloteh dengan matanya yang tetap tertutup, mereka semua paham jika anak itu sedang dirasuki, pantas saja ia berubah, ternyata selama ini tersedia yang dambakan memanfaatkannya. Dan Rusin?, bocah itu agaknya sengaja membuktikan dirinya terhadap Merry dan dambakan menjaganya.

Cerita Horor Kabar yang Mengagetkan

cerita-horor-kabar-yang-mengagetkan

Tampaknya mahluk-mahluk yang tersedia di luar memang sengaja memasang badan, tersedia suatu hal yang mereka jaga dan mereka dapat siap masuk kapan saja jika merasa terancam. Septi merasa tak nyaman, ia berkeringat begitu deras, sedikit demi sedikit ia menggerakkan badannya, merasa terganggu sebab sentuhan Merry terhadap perutnya dan,
“Aaaa!,” gadis itu menjerit kesakitan, ia mengulir ulir seakan telah terjadi suatu hal terhadap perutnya.
Pak Adi mengajak mereka untuk langsung bertindak, Febri membantu Septi, judi bola sedang Juni dan dirinya menyadarkan Merry. Juni meraih penuh tubuh keponakannya, mendekapnya agar tak ulang bergerak dan pas mahluk itu coba kabur, pak Adi cepat-cepat menangkapnya.
Merry melemas pas mahluk yang merasukinya mengantarai diri berasal dari tubuh mungil itu. Digenggam erat, pak Adi menggenggam tubuh wanita yang baru saja merasuki Merry, ia menalikan tali serabut terhadap tubuh itu. Yang tersedia di dalam pandangan Febri pas itu sekedar tali yang bergerak sendiri ke sana ke mari tentu sebab ia tak sanggup melihat apa yang memang terikat di sana.

Mahluk-mahluk yang tersedia di luar seakan tak terima, mereka merasa merangsek masuk, tapi sia-sia sebab diam-diam pak Adi telah memanggil ulang mahluk yang pernah diusirnya berasal dari rumah ini. Mahluk yang tertanam dengan jimat Subagyo kakek Juni.
Fungsi berasal dari benda terkubur itu adalah untuk melindungi rumah ini, menjadi tameng gaib area di mana ia ditanam. Tingkat keefektifannya begitu tinggi, begitu kuat hingga ratusan mahluk liar pun dapat susah menghadapinya. Kini bukan Bagyo ulang yang menjadi majikannya, melainkan pak Adi, ia cuma dapat menuruti apa kata pria itu.

Mahluk-mahluk rendahan yang sedari tadi tersedia di luar merasa kesal dan makin lama emosi pas tak sanggup masuk secara paksa, mereka meninggikan nada dan mencakar-cakar dinding rumah Juni. Malam itu semua warga merasa ketakutan, kendati tak tersedia yang paham menahu dapat suasana itu, tapi dampak yang terjadi merambat hingga ke semua penjuru di sana. Hawa panas merebak ke semua desa.

Septi dibangunkan paksa oleh Febri atas perintah Pak Adi, agar ia sendiri pun ikut melihat kebenarannya. Ia tersadar tapi tetap di dalam suasana menghambat sakit, perutnya nyeri dan ia tetap merintih. Perlahan ia merasa sanggup fokus, melihat sekelilingnya. Kedua mata itu melihat sendiri bagaimana rupa mahluk yang menguntitnya.
Perempuan tua dengan perut buncit, ya, tampaknya ia sedang mengandung. Perawakannya normal layaknya manusia biasa, cuma saja jika sangat dilihat ke dua tangan dan kakinya berbalut lumpur dan lendir, di baliknya terdapat kulit kasar dan kuku tajam, identik layaknya punya buaya.

Ia begitu kecemasan pas banyak gunakan mata menatapnya, kemungkinan saja mahluk itu pemalu, sanggup dilihat berasal dari gerak geriknya selama ini, ia selamanya bersembunyi dan tak mau membuktikan badan lebih-lebih wajahnya sendiri. Hanya satu matanya yang selamanya ia tunjukkan.
“Kamu sanggup bicara?,” tanya pak Adi terhadap mahluk di hadapannya.
Tak tersedia jawaban, jin perempuan itu menunduk malu dan coba menyembunyikan wajahnya.
“Nak Febri, bawa Septi ke sini,” perintah pria itu.

Febri langsung menurutinya dengan membantu Septi terjadi mendekat ke Pak Adi begitupun Juni, ia ikut mendekat dengan selamanya menggendong tubuh Merry.
“Coba kamu lihat,” ucapnya terhadap Septi.
“Lihat dia, kamu kenal?,” lanjut Pak Adi.

Septi coba mengenali mahluk itu, tapi ia tidak ingat sama sekali, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedikit demi sedikit wanita tua di hadapan Septi itu membuka wajahnya, menengok Septi yang berada di dekatnya, pandangannya tertuju terhadap perut Septi.
“Itu kan yang kamu inginkan?, kamu mau itu kan?,” tanya Pak Adi terhadap mahluk aneh itu kendati ia paham ia tak dapat mendapat jawaban.

“Mohon maaf sebelumnya jika aku lancang, nak Septi, sepertinya saat ini nak Septi sedang isi,” lanjut pak Adi yang memang sungkan untuk mengatakannya.
Isi? Septi bertanya tanya apa maksud ucapan pria itu.

“Dia dambakan menitipkan anaknya di perut nak Septi, dia tau jika nak Septi sedang hamil,”
Ia menyatakan bahwa memang beberapa jin senang menitipkan bayinya di rahim manusia, mereka dapat mengambilnya ulang pas bayinya dilahirkan dengan bayi manusia itu sendiri, yang biasa paham hal itu adalah dukun beranak dan wanita yang menjadi inang itu.Dapat pula jin itu dapat mengambilnya sementara sebelum saat hari kelahiran tiba, lebih-lebih sanggup saja jin itu menculik ke dua bayi tersebut. Bayinya sendiri, dan bayi punya manusia yang menjadi inangnya.

Di luar itu semua, tersedia kenyataan yang justru begitu perlu dan sangat mengejutkan, Yaitu kehamilan Septi. Juni yang mendengarnya pun seakan tak percaya, ia syok mendengar kabar kehamilan kawannya, lebih-lebih itu berasal dari mulut orang lain.
“Sep?,” Juni menegang, alisnya menyatu dan matanya menatap tajam Septi.
“Sa.. aku hamil pak?,” Septi begitu gugup dan tak kalah terkejut dibanding Juni.
Kalau yang hamil saja tak paham dapat kehamilannya, lebih-lebih orang orang disekitarnya. Pak Adi mengangguk, Febri pun perlahan melonggarkan pegangan tangannya berasal dari lengan Septi. Septi tak sanggup berbicara kata, lidahnya begitu kelu. Apa yang mesti ia melaksanakan sekarang?, akankah ia sangat hamil?, bagaimana ia mesti menyatakan itu semua terhadap orangtuanya?.
Juni menangis, ia menangis histeris, ia merasa begitu gagal. Bagaimana sanggup ia tak paham dapat hal ini sedari sebelumnya?, air mata membasahi beberapa besar wajahnya, ia tetap saja mengusap usap aliran air matanya sendiri.

Juni langsung membaringkan keponakannya di bawah, ia merangkak lebih dekat terhadap Septi. Kedua tangannya gemetar, mengusahakan tegar dan menggenggam pundak Septi.
“Siapa ayahnya?,” tanya Juni.
Septi tetap saja mematung, Juni merasa tak sabar, ia mengguncang guncangkan bahu Septi
“Sep…Septi jawab Sep,” ucap Juni tak kuasa.
Namun Septi selamanya diam, entah ke mana pikirannya melayang. Ia tak menangis ataupun bahagia, ia cuma diam kebingungan. Pak Adi menyuruh mahluk-mahluk di luar rumah Juni untuk langsung ulang terhadap kediaman mereka sendiri, tak lupa ia lebih dahulu melewatkan wanita itu.
Wanita yang tadi ditangkapnya, yang ternyata adalah anak sulung berasal dari penghuni pemimpin mahluk-mahluk itu, entah darimana asalnya hingga makhluk itu sanggup hingga ke sini dan hendak menjadikan Septi sebagai inang untuk jabang bayinya, lebih tepatnya untuk telur-telurnya.

Seminggu kemudian Juni mengantar paksa Septi ke rumah orangtuanya, ini semua demi kebaikan sahabatnya itu. Juni dan Febri lah yang menyatakan terhadap orangtua Septi berkenaan kebenarannya, Juni menangis memohon maaf, ia begitu merasa bersalah sebab tak sanggup melindungi Septi dengan baik.
Di luar dugaan, dengan ikhlas orangtua Septi menerima cobaan yang kini menimpa keluarga mereka, kendati rasa rasa sedih selamanya terbesit di sana. Mereka sama sekali tak menyalahkan Juni, lebih-lebih sangat berterimakasih terhadap Juni sebab telah melindungi Septi seharusnya saudara sendiri.
Mereka berniat untuk langsung menikahkan anaknya dengan pria yang telah seharusnya mengemban tanggung jawab itu, untunglah kekasih Septi bersedia menerima konsekuensi berasal dari perbuatannya. Akhirnya Septi menikah dan meninggalkan rumah Juni untuk tinggal dengan keluarga barunya.
Catatan suami Juni :
Itulah segala kebusukan yang selamanya kita simpan rapat-rapat tanpa tersedia yang paham banyak fakta dibalik keluarga mendiang istri saya, doakan mereka yang berhak mendapat ketenangan di alamnya.
Terlepas pertalian darah, istri aku tetaplah istri saya. Tak tersedia yang membuatnya berhak disangkut pautkan dengan borok yang terjadi bukan atas kesalahannya.
Sekedar memberi tahu, aku melamarnya di hari kelulusannya, tetap merasa paham hingga saat ini betapa gugupnya pria memalukan ini dihadapan wanita simpel itu.
Sayang, semua kebahagiaan yang kita lalui dengan tak sanggup membawa dampak Tuhan bersedia membiarkannya menemani kita untuk sangat lama di kehidupan ini. Tak apa, tetap tersedia kesempatan di kehidupan berikutnya untuk aku menemui Juni. Saya harap ia tunggu aku dan putrinya di sana, di surga.
-Tamat-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *