Cerita Horor Kuntilanak Merah – Saat sekolah, kegiatan pramuka pasti punyai agenda Jurit Malam. Jurit Malam sendiri bukan cuma ajang senior menakut-nakuti adik kelas, namun juga menolong supaya siswa sanggup membangun keberanian berasal dari dirinya.

Cerita Horor Kuntilanak Merah

cerita-horor-kuntilanak-merah

“Anton.” Panggilku padanya yang baru saja tiba. “Tahu nggak jika kelas satu perlu turut Jurit Malam?”

Anton mengangguk. “Iya tadi udah memandang di mading.”

“Kelas kita kebagian hari apa?” Tanyaku.

“Kamis, pas banget malam Jumat.”

“Kalau Cindy?”

“Sabtu dia mah, nggak asyik banget dipisah-pisah gini.” Jawab Anton lesu, gara-gara berasal dari awal dia dambakan satu tim dengan gebetannya dikala Jurit Malam.
.
Hari Kamis pun tiba, Ibu udah menyiapkan beraneka macam keperluan yang kubutuhkan untuk menginap semalam di sekolah. Dari pakaian ganti, mi instan, obat nyamuk, hingga senter untuk kegiatan Jurit Malam.
Awalnya aku tidak antusias selagi mengetahui acara Jurit Malam cuma diadakan di sekolah, gara-gara sekolahku sebetulnya tidak begitu luas, dan tidak tersedia kesan seramnya serupa sekali dikala pagi hari.

Namun dikala malam tiba dan lampu dipadamkan, aku seolah tidak mengetahui ulang sekolahku.

“Selamat malam semua.” Sapa Kak Ridho memberi salam kami. Kak Ridho merupakan ketua Osis, sekaligus bertugas jadi pembimbing kita untuk malam ini. “Hari ini kalian akan lakukan Jurit Malam, udah mengetahui belum aturannya?”

“Belum Kak.” Jawab anak kelas 1 bersamaan.

“Emangnya kalian belum sanggup bocoran berasal dari anak kelas lain?” Goda Kak Ridho.
Kami tertawa. Sebenarnya udah banyak desas-desus beredar jika acara Jurit Malam nanti para siswa diminta pergi berdua keliling sekolah tanpa penerang apa pun, dan diminta lakukan list pada hantu apa saja yang ditemukan dan di ruangan apa. Hal ini ditunaikan supaya siswa terlalu keliling.

“Nah saat ini kalian cari satu rekan untuk bekerja sama.” Lanjut Kak Ridho menjelaskan.

Aku dan Anton langsung mengangkat tangan kita yang udah bergandengan, supaya tunjukkan bahwa kita rekan satu tim.
Setelah lima menit menunggu, pada akhirnya satu per satu kelompok diminta terjadi keliling.

“Kita giliran ke berapa Ton?”

“Lima berasal dari terakhir.” Jawab Anton.

“Ya ampun sial amat.” Balasku tertawa. “Satu kelompok 10 menit, jadi kita baru start jalur jam 2 nih?”

Anton mengangguk. “Iya, anjay banget dah!”
.
Setelah beberapa jam, pada akhirnya tiba giliranku dan Anton. Kami diminta terjadi bersama, namun seluruh alat penerangan dan ponsel perlu dititipkan di kakak kelas.
Saat masih berada di garis start, aku dambakan cepat-cepat mengawali uji nyali ini. Ingin saja tunjukkan kepada yang lain bahwa aku berani. Namun ini tidak seperti sekolahku dikala siang hari, rasanya tangga menuju lantai dua jadi mencekam seolah tersedia seseorang yang siap memberi salam kita dikala tiba di ujung.

Sebuah angin kecil melewati tengkuk leherku begitu saja. Aku masih terdiam, tidak dambakan tunjukkan bahwa sebetulnya tersedia rasa takut mengganggu hatiku.

“Sat.”

“Kenapa Ton?”

“Kita perlu ke mana dulu nih?”

“Harus cek satu-satu kan ruangan di lantai 2 ini.” Jawabku mengingatkan perintah berasal dari Kakak kelas. “Suara anda kenapa gemetaran gitu sih?”

“Nggak sedap aja perasaanku.” Balas Anton tanpa menutupi rasa khawatirnya.

“Aku juga sih, kayak banyak orang tengah memandang kita.”
Anton mengangguk.
.
Kami tetap terjadi dan memasuki area demi area untuk mencari sosok hantu yang diperankan oleh kakak kelas. Sebenarnya seluruh juga mengetahui bahwa hantu di sini adalah manusia, namun suasana mencekam di lorong sebabkan seluruh bulu kudukku berdiri.Baca Selengkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *