Cerita Horor Tumbal Anggara Kasih – Aku pun mengingat semuanya dan mencocokkan ulang satu per satu. Bahkan e-mail pun senantiasa dikirim tiap malam Selasa Kliwon pukul 02.45 pagi.

Cerita Horor Tumbal Anggara Kasih


volunteerbangladesh – Pantas saja aku mimisan, ternyata aku lupa dan bahkan tidak memahami, bahwa kemarin yang kita jalankan hanya menaikkan kekuatan mereka.
Eyang terhitung menulis di didalam buku jurnalnya, bahwa untuk menangkalnya diperlukan orang bersama weton Selasa Kliwon bersama ciri-ciri fisik tertentu.
Carinya di mana ini, badanku gemetar, aku menangis sesenggukan, bagaimana aku mesti menyebutkan jikalau adik dan sahabatku menjadi tumbal. Ketika isakanku jadi dalam, aku seperti melihat eyang memelukku.
Jujur, ini ketenangan yang aku cari, walaupun aku belum dulu berjumpa eyang kakung secara fisik tapi entah kenapa, beliau senantiasa ada di kala aku kebingungan, walaupun hanya untuk menenangkanku.
Aku seperti punyai tenaga baru, kekuatan untuk melawan dan jawaban berasal dari apa yang aku cari. Aku mesti merubah tujuanku, tidak ulang membalas perbuatan mereka tapi menyembuhkan adik dan sahabatku.

Ya, aku mesti jalankan secepatnya, sebab jikalau tidak, bakal ada darah yang tumbang sebelum akan maghrib. Aku terhitung mesti berkhayal anak buahku yang terbaring di tempat tinggal sakit, yang menjamin perihal yang tidak mereka ketahui sebenarnya.
Alma dan Nath mesti disembuhkan, supaya seluruh ulang baik-baik saja. Aku bergegas mandi dan sesudah itu menggelar sajadahku, mencari tambahan ketenangan bersama mengemis kepada Tuhanku atas kekeliruan dan meminta maaf atas keteledoranku.
Membaca ulang amalan dan melafadzkan namanya seperti yang diajarkan disaat aku masih berada di salah satu pondok pesantren tertua di Jawa Timur.
Melakukan ulang apa yang dulu diajarkan padaku. Walau bagaimanapun rancangan kita, rancangan Tuhan tentu lebih baik lagi. Sebesar apa-pun kekuatan kita, Tuhanlah yang mempunyai kuasa lebih atas diri kita.

Tidak ada salahnya kita kembalikan seluruh kepada Tuhan, menghamba, mengemis, dan mengiba atas apa yang kita alami. Jawaban apa-pun yang bakal diberikan Tuhan padaku, itu yg bakal aku lakukan.

Kemudian, aku melipat mukena dan sajadahku. Aku menghubungi Ajengan lewat gawaiku dan Ajengan sesudah itu memberikanku beberapa hafalan dan mesti kubisikkan tepat ditelinga Alma dan Nath.
Ajengan terhitung berpesan bahwa aku mesti kuat, sebab jikalau aku kuat, seluruh bakal baik kembali. Aku mengambil alih gulungan kain yang Alma muntahkan.
Aku mencucinya dan membaca tiap huruf yang ada di didalam gulungan itu dan mencocokkannya bersama yang ada pada buku catatan eyang. Siapa mengerti ada kecocokkan berasal dari kata-kata yang ada di gulungan bersama yang ada di buku catatan eyang.
Akhirnya aku menemukannya, terima kasih Tuhan, thankyou Ancestor, Matur nuwun eyang.
Aku mesti terasa menghitung ulang terasa sekarang, kali ini mesti tepat, jangan sampai ada ulang kesalahan, sebab kekeliruan kecil dapat memicu kekeliruan besar.
Akhirnya aku muncul berasal dari kamar, aku melihat Alma dan Nath tertidur. Kemudian aku duduk “Paman, aku kira setelah semuanya, Paman dapat sangat berubah, tapi ternyata setelah tadi malam, aku rasa Paman masih ada dendam, andai Paman dapat menurunkan sedikit ego Paman mungkin perihal ini dapat kita menyelesaikan bersama baik, tapi rela bagaimana lagi, ego Paman menang tadi malam, apa yang Paman rela kali ini?,” tanyaku.
Paman Aryasatya pun tersenyum “Paman kira, anda tidak menyadarinya,” ucapnya.
“Jangan remehkan aku Paman,” ucapku penuh penekanan.
Paman Aryastya tersenyum, sesudah itu ia meninggalkan ruangan, disusul bersama Bimo, mereka berdua meninggalkan kita semua. Tapi sebelum akan meninggalkannya, Paman Aryasatya membisikkan suatu hal padaku, dan kujawab bersama anggukan kepala.
Aku menentukan untuk pergi sendiri belanja kepentingan hari ini. Bukannya aku tidak percaya orang lain, tapi ini mesti aku lakukan. Selesai berbelanja aku ulang ke apartement, untuk mempersiapkan semuanya.
Mulai menata, menyiapkan, bahkan membakar hio. Setelah selesai semuanya, dan aku selesai menancapkan hio. Aku mendengar keributan. Yaa, the show must go on.
Jika sesuai perhitunganku, magrib nanti seluruh sudah selesai bersama aman, damai sentosa. Tidak tidak cukup suatu apapun, aku melihat Alma dan Nath beradu, mereka sudah seperti dua orang pendekar bersama senjatanya masing-masing.
Aku mengerti bahwa yang Nath incar adalah apa yang ada di didalam tubuh Alma, namun Alma, mengidamkan Nath sebagai santapannya. Aku menanti sampai mereka lengah, sebab jikalau aku meleset, aku yang bakal menjadi sasaran mereka berdua.

Aku mengerti ini resiko yang bakal aku dapat tapi sebagai seorang pemburu, aku mesti mengerti kapan buruanku lengah supaya aku dapat melumpuhkannya.
Aku melihat Alma sudah tidak seperti dirinya lagi, matanya speenuhnya memutih dan lidahnya menjulur, dia sudah mengambil alih posisi untuk menyerang Nath, untungnya aku sudah mempersiapkan kapur sirih berisi kambing bakar yang bakal aku pakai untuk memicu mereka tenang.
Alma dan Nath sudah didalam suasana trance sepenuhnya. Keduanya siap berperang, menghabisi satu serupa lain. Dan aku mesti dapat secepatnya memasukkan kapur sirih ini ke mulut mereka, sebab menurut buku catatan eyang, hanya ini hanya satu cara memusnahkan suruhan itu.
“In the name of ancestor,” ucapku didalam hati, akupun berhasil memasukkan kapur sirih dan daging kambing bakar ke didalam mulut Alma dan Nath.
Entah apa rasanya aku tak peduli, yang jelas, saat ini giliran Mas Wisnu dan Bang Nizar mesti menutup mulut Alma dan Nath supaya dapat tertelan.
Setelah mereka menelannya, Nath jatuh pingsan namun Alma, dia mengalami kejang, sebab mahluk yang sepanjang 2 minggu digendong dan dibawa kemana-mana olehnya, tidak terima jikalau dia diusir, sebab ia terasa sesuai bersama tubuh Alma.
Akhirnya, aku membacakan rapalan warisan eyang yang aku ingat, aku tahu, jikalau ini aku bacakan, resikonya adalah Alma tidak bakal ingat apa saja yang berlangsung padanya, baik perihal perlu maupun yang tidak penting, tak hanya itu juga, bakal berakibat terbukanya indranya yang lain.
Tapi ini hanya satu cara yang paling safe bagi semuanya sebab jikalau cara lain yang aku lakukan, maka aku mesti ikhlas menumbalkan suatu hal sebagai gantinya.
Bukannya aku egois, sebab cepat atau lambat indra lain Alma sesungguhnya mesti terbuka. Aku membisikkan kata-kata yang berisi kata-kata mengenai kawilujengan, yang isinya mengenai keselamatan jiwa dan raganya.
Selesai aku membaca kata-kata itu, Alma memuntahakan gumpalan-gumpalan darah dan boneka yang bertuliskan nama seseorang
Aku tidak sempat membacanya sebab seluruh mesti dilarung untuk ulang secepatnya, bahkan aku memotong rambut Alma dan Nath supaya tidak berlangsung hal-hal yang tidak di inginkan dikemudian hari.
Kali ini aku tidak rela mengambil alih resiko, sebab banyak nyawa yang dipertaruhkan jikalau sampai ada kesalahan. Setelah membereskan semuanya dan bersihkan bekas pembersihan, Mas Wisnu dan Bang Nizar yang melarung semuanya. 2 jam kemudian, mereka ulang berasal dari melarung, Yanus dan anak buahku yang dirawat di tempat tinggal sakit memberi tambahan kabar lewat gawaiku bahwa luka mereka sudah kering.
Sejurus sesudah itu Alma dan Nath tersadar, aku meminta mereka untuk mandi sebab jujur saja bau badan mereka sudah tidak mengerti lagi. Aku mengerti ada banyak pertanyaan didalam benak Alma, dan itu muncul mengerti berasal dari raut wajahnya, tapi biarlah, aku jawab nanti setelah ia selesai mandi.
Selesai Alma mandi, kita seluruh duduk sambil ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, bersama kopi dan rokok ditangan kita masing-masing. Alma tidak menanyakan apapun, ia hanya bilang “Kak, badan aku kok cape bangwt ya, kaya habis ngangkat beban,” ucapnya.
Aku hanya menjawab bersama senyuman sebab sejujurnya aku pun penat bersama seluruh ini. Hingga kemudian, Nath bicara “Ini sebenernya kiriman membuat siapa deh, kenapa sekali nebar ke seluruh orang kena,”
“Entahlah, yang perlu seluruh selesai bersama baik dan kita seluruh baik-baik aja,” jawabku.
“Tumben, sunsetnya keliatan, liat deh kak, seumur-umur kita stay di sini, baru ini keliatan sunset cakep banget,” seloroh Alma.
Kami seluruh pun tertawa bersama, membiarkan segala beban yang ada, sebab kelanjutannya beban itu hilang berasal dari kehidupan kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *