Pengalaman Seram di Lift – Sekujur tubuh merinding, darah layaknya berhenti mengalir, ketika mengetahui ada sosok lain yang menyeramkan, berdiri di didalam lift.

Pengalaman Seram di Lift

pengalaman-seram-di-lift

Hani, 25 tahun, Jakarta.~
“Lo ke sini aja ya, biar cepet, gak makan waktu. Dari sini kita langsung ke Kemang deh. Ok ok ok? Hehe.”
“Ah bilang aja lo mau dijemput, dasar kelakuan. Ya sudah tunggu, habis maghrib gw jalan.”

“Ah emang lo temen gw paling baik sedunia, hahaha. Nanti langsung naik aja ke lantai 7 ya Han, risau kerjaan gw belum kelar.”
“Iya, iya, bawel.”
Itu obrolan dengan Inda, sahabatku sejak kuliah dulu. Kami berencana untuk reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman kampus area kita kuliah dulu, tempatnya di Kemang.

Bukan yang pertama termasuk sih acara kumpul-kumpul layaknya ini, sebelumnya sudah beberapa kali ada. Bedanya, kali ini saya wajib menyempatkan diri untuk singgah ke kantor Inda, menjemputnya selanjutnya berangkat bareng.
Gedung di mana kantor Inda berada memang gak amat jauh berasal dari kemang, hanya kurang lebih 15 menit jaraknya. Sedangkan saya berkantor di Jakarta Barat, kurang lebih satu jam lebih perjalanan ke kantor Inda terhadap jam sibuk pulang kantor.Begitulah, dan layaknya percakapan kita melalui telepon tadi, selepas maghrib saya berangkat, kurang lebih jam setengah tujuh.

Perhitunganku, jam setengah delapan semestinya sudah sampai tujuan, namun ternyata terhadap hari jumat itu jalanan Jakarta macetnya lebih kronis berasal dari biasanya, gak mengetahui apa sebabnya. Alhasil, nyaris jam setengah sembilan saya baru sampai parkiran gedung kantor Inda.

Aku gak parkir di basement situs slot online terbaik, karena parkiran gedung sudah sepi, penghuninya sudah pulang semua.
Sebelum turun, saya coba untuk menelepon Inda, mau bilang jikalau sudah di parkiran, namun ponselnya gak aktif, dua atau tiga kali saya coba namun tetap gak aktif juga.

Ya sudah, pada akhirnya saya putuskan untuk langsung saja ke lantai 7, jemput Inda di ruangannya, karena dia tadi sempat bilang begitu.
“Malam Pak, saya mau ketemu Inda, di lantai 7.” Ucapku ke Pak Satpam ketika saya sudah sampai di lobby.
“Silakan mba, langsung aja.” Jawab Pak Satpam sambil tangannya menunjuk ke arah lift.”
Letak meja sekuriti kurang lebih 15-20 meter jaraknya berasal dari pintu lift.

Gedung ini sepertinya sudah amat kosong, di lobby-nya hanya ada saya dan Pak Satpam, nada yang terdengar pun hanya nada cara kakiku yang tengah bergerak menuju lift.
Ya mungkin karena ini hari jumat, jadinya orang-orang sudah buru-buru pulang untuk berakhir pekan.
Benar, gedung ini kosong, amat sepi.

Mungkin karena sudah sepi, ketika menekan tombol lift, pintunya langsung terbuka, menjadi gak wajib menunggu lama.
Ketika pintu sudah terbuka penuh, barulah muncul jikalau raise didalam situasi kosong. Kemudian saya masuk ke dalamnya.
Menekan tombol lantai 7, selanjutnya pintu menutup.
Lift bergerak ke atas..
Lantai dua..
Lantai tiga..

Ting! Tiba-tiba Lift berhenti di lantai 3A, lantas perlahan pintunya terbuka.
Aku hanya diam memperhatikan prosesnya, sambil bersandar terhadap dinding raise bagian belakang.
Gelap, lantai 3A didalam situasi gelap, saya hanya mampu melihat meja resepsionis yang letaknya gak jauh di depan pintu lift.

Aku tetap menunggu sambil bersandar, namun gak muncul ada orang, serupa sekali gak ada orang yang masuk ke didalam lift, sepi aja.
Penasaran, saya selanjutnya maju beberapa langkah, melongokkan kepala ke luar, untuk melihat sekitar, siapa mengetahui ada orang yang hendak naik.

Tapi gak ada, kosong, saya gak melihat ada orang serupa sekali. Pada selagi inilah perasaan terasa gak enak..
Aku yang amat penakut ini langsung berpikir yang nggak-enggak, siapa yang memencet tombol raise supaya berhenti di lantai 3A? Padahal lantai 3A kelihatannya sudah serupa sekali kosong, serupa sekali gak ada orang..

Merinding, saya selanjutnya masuk ulang ke dalam, selanjutnya menekan tombol tutup pintu berkali-kali.
Sukurlah, raise pada akhirnya menutup.
Tapi, ketika sudah agak sedikit lega, saya terasa panik lagi, kenapa? Karena ternyata raise gak bergerak serupa sekali. Hanya diam di tempat, di lantai 3A, gak ke lantai 7, padahal pintunya sudah tertutup rapat.
Kembali saya menekan tombol lantai 7 berkali-kali, meminta raise dapat bergerak ke atas.
Harapan tinggal harapan, raise gak bergerak juga.

Aku terasa panik, selanjutnya merogoh tas mencari ponsel, bermaksud untuk coba menghubungi Inda.
Tapi tiba-tiba, TING!
Pintu raise ulang terbuka,
Aku terkejut sangat, jantungku layaknya berhenti.
Masih di lantai 3A, tetap amat gelap termasuk keadaanya, sama serupa dengan ketika tadi pintu terbuka pertama kali.

Meja kosong resepsionis, sendirian didalam gelap, gak ada orang serupa sekali..
Kembali saya tekan tombol tutup pintu berkali-kali. Sukurlah, perlahan pintu raise ulang menutup.
Nyaris menangis, saya coba untuk menghubungi Inda lagi. Sial, gak ada sinyal!

Semakin panik, karena lagi-lagi raise gak termasuk mau bergerak, tetap diam di tempatnya. Pandanganku tetap fokus ke layar ponsel, berusaha untuk menghubungi Inda, namun tetap tanpa hasil.
Ting!
Sekali ulang nada itu muncul mengangetkanku, nada berarti jikalau pintu raise dapat terbuka.
Dan benar, perlahan pintu terbuka untuk yang ketiga kali. Masih di lantai yang sama, lantai 3A. Keadaannya termasuk tetap sama, gelap dan gak ada orang serupa sekali, sepi dan kosong.
Pintu terbuka lebar, bertahan layaknya itu sepanjang beberapa belas detik. Aku sudah menangis pelan sambil bersandar di dinding raise sebelah kiri, ketakutan, panik.

Sekali lagi, saya tekan tombol tutup pintu berkali-kali, memaksa pintu supaya cepat tertutup.
Tapi sebentar, kali ini saya mendengar sesuatu,
Ada nada cara kaki, cara yang sepertinya menuju lift, namun bukan cara terburu-buru, hanya cara kaki berlangsung biasa.
Bukan lega karena mendengar itu, saya malah malah panik, risau itu setan atau hantu, saya ketakutan.
Sementara cara itu layaknya konsisten mendekati lift..
Sampai akhirnya, ada sosok yang tiba-tiba muncul di depan pintu lift..
“Aaaahh, elu Nda, gila lo ya, ngagetin aja. Aduuuuuhh..”
Ternyata yang muncul adalah Inda, nada cara kaki tadi adalah cara kakinya. Lalu dia masuk ke didalam lift.
Ah leganya..
Kemudian pintu menutup, kali ini raise bergerak, namun bukan ke lantai 7, namun malah turun ke lantai dasar. Pada selagi itu saya gak amat memperhatikan keanehan ini, hati dan pikiran terlanjur gembira karena sudah dengan Inda.

“Ngapain lo berasal dari lantai 3A Nda? Udah sepi gitu, nakutin tau..” Ucapku, tanpa melihat ke arah Inda, fokusku tetap ke layar ponsel.
“Ada teman.” Jawab Inda datar.
“Kenapa lo sakit? Lemes amat.” Tanyaku lagi, tetap belum menatap Inda, karena ada suatu hal di ponsel yang lebih menarik perhatian.
Tapi Inda gak menjawab, dia diam saja sambil berdiri di bagian belakang, saya melihatnya berasal dari sudut mata.

Ting!
Sampai termasuk di lantai dasar, selanjutnya pintu raise terbuka.
“Ayok ah buruan, kita sudah telat nih, karena macet tadi.” Ucapku sehabis pintu sudah terbuka, selanjutnya melangkah keluar.
Tapi sekali ulang Inda gak menjawab. Lalu saya menoleh ke belakang, melihat ke arah lift.
Betapa kagetnya aku, ternyata raise didalam situasi kosong, gak ada Inda di dalamnya.
Inda ke mana?
Dalam situasi tetap kebingungan, tiba-tiba ponselku berdering, muncul postingan “Inda” terhadap layarnya.
“Inda? Lo di mana deh?”
“Lah, lo di mana? Gw dah di parkiran berasal dari tadi ini, di depan mobil lo.”
Inda sudah di parkiran berasal dari tadi? Lalu siapa tadi yang naik raise bersamaku berasal dari lantai 3A?
Setelah sudah bertemu, selanjutnya kita terasa bercerita.
Ternyata Inda sudah ada di selesai sejak sejak jam delapan, lantas menungguku di minimarket depan gedung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *