cerita-horor-angkot-jatinangor

Cerita Horor Angkot Jatinangor – Perjalanan malam seringkali menghasilkan kisah seram.
Seperti yang pernah dialami oleh keliru satu kawan kami Rizky, kala dia manfaatkan angkot untuk kembali ke tempat kost-nya di Jatinangor pada suatu tengah malam.

Cerita Horor Angkot Jatinangor

cerita-horor-angkot-jatinangor

volunteerbangladesh.org – Aku Rizky, Mahasiswa angkatan 2005 keliru satu universitas di Jatinangor, Jawa Barat.
Yang akan aku ceritakan kali ini adalah momen yang aku alami sendiri pada th. 2006.
Begini ceritanya..

Seperti mahasiswa lain yang berasal dari luar tempat di mana letak universitas berada, aku yang berasal dari Sukabumi kudu ngekost juga.
Tempat kostku gak teralu jauh dari kampus, masih sanggup dijangkau dengan jalur kaki untuk pulang pergi kuliah.
Dan, sama termasuk dengan sebagian besar anak kost lainnya, aku termasuk mengandalkan transportasi lazim kecuali kudu ke obyek agak jauh, keliru satunya angkot.
Ngomong-ngomong soal angkot, boleh dibilang aku benar-benar jarang menggunakannya, karena tempat kost berada di tengah-tengah, menjadi kecuali senang ke mana-mana masih sanggup dijangkau dengan berlangsung kaki.

Kalau senang ke tempat obyek jauh naik apa dong?.
Nah, kecuali lihat letak di mana Jatinangor berada, yakni di antara kota Bandung dan Sumedang, aku dan teman-teman, kecuali memang ingin bepergian cari hiburan ke kota besar akan lebih menentukan ke Bandung.
Untuk menuju Bandung kami akan manfaatkan bis Damri sebagai alat transportasi, karena kecuali naik angkot entah kapan akan sampai, abadi macetnya.
Ya begitu, aku jarang naik angkot kecuali gak terpaksa.
Lima belas th. yang lalu, Jatinangor masih terbilang sepi, belum seramai sekarang, angkot masih belum banyak jumlahnya. Angkot termasuk masih sedikit penumpangnya, jarang sekali aku lihat angkot yang penuh penumpang.

Kenapa aku sampai memperhatikan penumpang angkot pas itu? Ada alasannya.
Jadi gini, pada semester awal aku kuliah, sempat beredar cerita seram tentang angkot.
Yaaah.., namanya cerita seram, tentu akan cepat menyebar di kalangan mahasiswa dan penduduk sekitar.
Waktu itu beredar cerita yang katanya di sekitaran Jatinangor tersedia angkot setan.
Angkot setan? Iya, angkot setan.
Cerita yang berawal dari (katanya) tersedia mahasiswi yang ditemukan pingsan di tepi jalur pada malam hari, usut miliki usut, sebelum saat pingsan dia naik angkot dari arah Cileunyi senang menuju Jatinangor,
ternyata angkot yang dia tumpangi berisi hantu atau setan atau jurig atau apalah sebutannya, lantas mahasiswi ini kegelisahan setengah mati sampai kelanjutannya jatuh pingsan.
Aku sih yakin gak yakin dengan cerita itu, tetapi senantiasa seru aja kecuali tersedia kawan yang menceritakannya lagi, hitung-hitung hiburan.
Tapi, sikap skeptisku itu berkesudahan kala kelanjutannya aku mengalami sendiri perihal seram di dalam angkot, perihal yang masih aku ingat detailnya sampai hari ini.
Angkot setan di Jatinangor.
***

Baca Juga : Cerita Horor Lintas Dimensi di Selatan Jawa

Waktu itu awal th. 2006, aku pulang mudik ke Sukabumi karena memang tersedia libur panjang, cukup lama aku di rumah sebelum saat kelanjutannya kudu kembali kembali ke universitas Jatinangor.
Mungkin sama dengan mahasiswa lain, kala awal-awal kuliah aku masih benar-benar merindukan rumah, menjadi benar-benar betah kecuali sudah pulang kampung, berat rasanya untuk kembali ke universitas lagi.
Waktu itu termasuk sama, malas sekali rasanya untuk balik ke Jatinangor, makanya mengambil keputusan untuk berangkat sore saja, gak apa kecuali kudu sampai tengah malam.
Tapi ya biarpun begitu aku senantiasa kudu berangkat, kudu kuliah.
Aku ingat sekali, kecuali hari jumat aku tersedia jadwal kuliah awal, makanya mengambil keputusan untuk berangkat dari Sukabumi hari kamis sore.
Singkatnya, jam tiga sore aku sudah tersedia di terminal.
Biasanya aku naik bis jurusan Sumedang, tetapi entah kenapa hari itu aku sama sekali gak lihat penampakannya, gak tersedia bis ke Sumedang. Sampai menjelang jam lima, aku masih belum termasuk lihat bis yang aku tunggu-tunggu itu.
“Ah dari pada sampenya tengah malam, naik bis Garut aja ah.” Begitu pikirku dalam hati.
Ya sudah, karena sudah jam lima lewat, kelanjutannya aku naik bis arah ke Garut, nantinya aku akan turun di ujung tol Cileunyi, dari situ akan naik ojek ke tempat kost, atau kecuali masih tersedia aku akan naik angkot.
Begitulah rencananya.
Kamis itu cuaca Sukabumi gerimis seharian, mendung sudah tentu menjadi kepastian.
Aku pikir hanya di Sukabumi saja yang layaknya itu, tetapi ternyata nggak, sepanjang jalur hujan tak berkesudahan, dengan intensitas enteng sedang.
Bis Garut yang aku tumpangi ini gak benar-benar penuh, kemungkinan karena pas itu bukan akhir pekan.
Perjalanan akan memakan pas empat sampai lima jam, perkiraanku paling lambat jam sebelas sudah sampai.
Tapi ternyata meleset, jam setengah sebelas aku masih di Ciranjang. Jangankan Jatinangor, Bandung pun masih jauh. Itu berlangsung karena di awalnya tersedia kecelakaan yang sebabkan kemacetan panjang.
Untunglah, selepas itu perjalanan perlahan terasa lancar biarpun masih agak tersendat.
Sementara itu, di luar masih hujan, gerimisnya terus turun.
Gelapnya malam, menjadikan aku gak sanggup menikmati pemandangan, jadinya tidur yang ada. Apa kembali setelah terlepas dari kemacetan, aku jadi terlelap.
***

Aku kaget lantas terbangun, mendengar teriakan keras kondektur kecuali bis sebentar kembali akan sampai di ujung jalur tol Cileunyi.
Melihat jam tangan, ternyata sudah jam satu lewat sedikit.
“Lama benar-benar perjalanan, masa sampe Cileunyi jam satu.” Aku terheran-heran setelah nyawa sudah terkumpul semua.
Ya sudah, aku lantas bersiap-siap untuk turun.
Karena bis ini jurusan Garut, menjadi kecuali aku perhatikan, penumpangnya kurang lebih masih sama jumlahnya, belum banyak berkurang. Mungkin nanti di Cileunyi akan banyak yang turun bis bersamaku.
Selanjutnya, roda bis terus berputar menggelinding menyusuri jalur tol Padaleunyi, kecepatannya berkurang perlahan karena gak jauh di depan sudah nampak gerbang tol terakhir.
Oh iya, ternyata hujannya rata, sampai di titik ini pun di luar masih hujan, cukup lebat malah.
Aku sudah berdiri dari duduk, dan benar dugaanku, ternyata memang banyak penumpang akan turun di tempat yang sama. Gak banyak sih, adalah beberapa, tetapi lihat itu aku menjadi agak lega karena gak akan sendirian di tempatku turun nantinya.
Sekali kembali aku lihat jam tangan, sudah pukul satu lewat sepuluh.
Setelah lewat gerbang tol, kemungkinan lebih kurang dua atau tiga menit kemudian bis kelanjutannya berhenti.
Waktu itu perhentian bis di ujung tol Cileunyi hanya di tepi jalan, di depan warung-warung kecil, bukan di terminal.
Dalam kondisi hujan deras, aku kelanjutannya turun dari bis, dengan dengan sebagian penumpang lain. Kami berlarian menuju arah berbeda, hindari hujan deras agar gak basah kuyup.
Aku dengan dua orang penumpang lain kemudian berteduh di depan warung kecil tepi jalur yang sudah tutup. Sementara itu, bis yang aku tumpangi melanjutkan kembali perjalanannya.
Beberapa menit lamanya kami berdiri berteduh, sampai kelanjutannya gak lama kemudian tersedia dua motor ojek mampir mendekat.
Aku yang masih berharap masih akan tersedia angkot, dan lihat hujan termasuk jadi deras, gak benar-benar bersemangat lihat dua ojek itu, lantas membebaskan dua orang yang bersamaku untuk pergi naik dua ojek, meninggalkan aku sendirian.
Iya, kelanjutannya aku sendirian, karena menentukan senantiasa berdiri berteduh di depan warung gelap, dengan masih berharap tersedia angkot yang akan lewat.
Saat itu, kemungkinan karena hujan deras dan sudah lewat tengah malam, suasananya benar-benar sepi, kendaraan yang lewat melintas hanya sesekali, begitu terus sepanjang sebagian menit ke depan.

Lalu, entah hanya perasaan saja atau gimana, tetapi aku terasa kecuali tiba-tiba kondisi jadi sepi dan hening. Mengesampingkan suara hujan, sama sekali gak tersedia pergerakan atau suara lainnya.
Berdiri di bawah atap warung, bukannya aku menjadi kering tanpa terkena air hujan, tetapi tubuh senantiasa basah terkena cipratannya.
Menit berikutnya, kondisi menjadi tambah “Seru” kala angin terasa bertiup kencang, sebabkan air hujan menjadi lebih kerap kembali mampir di badan.
Ah, aku menjadi menyesal kenapa tadi gak naik ojek saja, tambah menentukan terus tabah tunggu angkot, yang semestinya aku menyadari kecuali saati itu hampir mustahil akan tersedia angkot yang lewat.
Entah apa yang tersedia di pikiranku pas itu.
Detik berubah detik, menit berubah menit. Aku belum termasuk lihat tersedia kendaraan lewat. Sepi. Kosong..
Tapi, kala terasa meratapi nasib, kelanjutannya aku lihat di kejauhan tersedia kendaraan yang nampak mendekat.
Kilatan sinar lampu yang gak benar-benar terang layaknya berjuang mati-matian menembus gelap dan derasnya air hujan, aku yakin itu lampu mobil kecil kecuali lihat dari bentuknya.
Terus aku perhatikan, lampu mobil berlangsung ke arahku, mendekat dan jadi mendekat. Hujan deras sebabkan aku belum termasuk lihat sang empunya lampu dengan jelas.
“Semoga ini angkot.” Begitu harapku dalam hati.
Ah! Ternyata benar, itu angkot. Ketika sudah tinggal sebagian mtr. jarak kami, aku sudah sanggup memastikannya.
Lalu angkot ini berhenti sama juga di hadapan.
“Kampus Unpad Pak?” Tanyaku kepada supirnya.
Pak supir mengagguk, lantas aku masuk ke dalam angkot. Walaupun kursi depan kosong, tetapi aku menentukan untuk duduk di belakang, entah apa alasannya pas itu.
Setelah sudah di dalam, aku kelanjutannya menyadari kecuali angkot ini dalam kondisi kosong, penumpangnya hanya aku seorang. Karena itulah aku menentukan untuk duduk di dekat pintu, gak apalah terkena air hujan, toh sudah hampir basah kuyup sejak dari warung tadi.
Sepertinya Pak Supir gak berniat untuk tunggu penumpang lain, setelah aku naik, dia lantas menjalankan mobilnya biarpun perlahan.
Dalam derasnya hujan kami menembus malam, menyusuri jalur yang masih saja sepi, sama sekali gak tersedia kendaraan.
“Ah kemungkinan karena sudah malam dan hujan deras pula.” Begitu pikirku dalam hati kala lihat itu semua, lihat kecuali sama sekali gak tersedia kendaraan lain di jalur raya kecuali angkot yang tengah aku tumpangi ini. Aneh sih, tetapi ya sudahlah.
Ada satu keanehan lagi.
Aku merasakan kecuali angkot berlangsung sangat-sangat pelan. Tapi itu berlangsung mugkin karena angkot dalam kondisi kosong, menjadi Pak supir berlangsung pelan agar sanggup penumpang nanti di depan, kemungkinan begitu.
Sementara di luar, hujan masih turun dengan derasnya.
Aku terus saja lihat ke depan, memperhatikan jalan.
Di kejauhan, aku sudah lihat tersedia lampu lantas lintas/lampu merah, atau “Setopan” kecuali kata orang Bandung. Kalau sudah sampai di lampu merah ini kami akan berbelok ke kanan, menuju universitas dan tempat kostku berada.
Tapi, lebih kurang dua ratus mtr. sebelum saat lampu merah, angkot tiba-tiba berhenti, layaknya tengah akan tingkatkan penumpang.
Nah, kala angkot berhenti ini aku menggeser sedikit posisi duduk, untuk menambahkan jalur kepada penumpang yang akan naik.
Tapi ternyata gak tersedia orang, gak tersedia penumpang yang masuk.
“Gak tersedia yang naik Pak, gak tersedia orang.” Begitu aku bilang ke Pak supir, setelah celingak-celinguk memperhatikan sekitar.
Lalu Pak supir menjawab pendek, “Aya.” Begitu katanya, sambil terus lihat ke depan, gak menoleh ke arahku.

“Ah, mana penumpangnya sih, orang gak tersedia juga.” Sungutku dalam hati.
Setelah berhenti sebentar, angkot kemudian berlangsung lagi, berlangsung pelan.
Aku yang masih kebingungan kembali lihat ke depan, memperhatikan jalan.
Tapi, belum termasuk sampai lampu merah, lagi-lagi angkot berhenti!
Sama layaknya sebelumnya, angkot layaknya tengah senang tingkatkan penumpang, padahal gak tersedia orang sama sekali, sepi.
Sekali kembali aku bilang ke Pak supir “Gak tersedia orang Pak, kosong.”
Pak Supir, sambil terus menatap ke depan, lagi-lagi menjawab “Aya.” Yang artinya “Ada.”
Aku jadi bingung, mana penumpangnya sih?
Sama, lantas angkot kembali berjalan. Bedanya, kali ini jalannya lebih cepat, gak pelan layaknya sebelumnya.
Karena angkot sudah berlangsung cukup cepat, aku yang tadinya duduk benar-benar dekat dengan pintu dan menghadap ke depan, menjadi berubah sedikit ke dalam, sebabkan aku menjadi menghadap ke samping, bukan ke depan lagi, menyadari ya?
Nah kala menghadap ke samping inilah aku kelanjutannya lihat suatu hal yang kemungkinan menjadi jawaban kenapa angkot ini tadi berhenti dua kali secara misterius.
Aku kaget tak terkira, merinding sejadi-jadinya, karena ternyata sudah tersedia dua penumpang di dalam, mereka duduk di belakang, berhadapan, keduanya laki-laki.
Kapan mereka masuk? Aku yang duduk di samping pintu sejak tadi gak lihat mereka sama sekali.
Sementara itu angkot berlangsung jadi cepat, aku yang terasa jadi kegelisahan sudah gak kembali memperhatikan jalan.
Dua Laki-laki ini terus menundukkan wajah, pas aku lihat mereka sesekali.
“Kiri, Pak. Kiri..” Begitu aku bilang ke Pak Supir, kelanjutannya memberanikan diri untuk minta angkot berhenti, aku jadi ketakutan,
Setelah bilang begitu, kemudian lagi-lagi aku menoleh ke belakang.
Betapa kagetnya aku, kala lihat ternyata dua penumpang seram ini sudah gak duduk di tempatnya semula. Mereka sudah berubah mendekat, yang satu duduk di hadapan, yang satu kembali duduk sama juga di sebelahku. Saat inilah aku sanggup lihat muka mereka dengan jelas.
Sangat menyeramkan, muka keduanya pucat berlumur darah, layaknya baru saja mati karena kecelakaan. Tercium termasuk bau amis hanyir yang benar-benar gak mengenakkan.
Aku jadi panik, lantas reflek menggebrak langit-langit angkot dengan keras.
“Berhenti Pak! Berhentiiiii!!” Aku berteriak begitu.
Kemudian angkot yang tadinya melaju cepat, perlahan terasa kurangi kecepatannya.
Ketika angkot sudah benar-benar pelan berjalan, aku nekat melompat turun. Hasilnya, aku jatuh terduduk di tepi jalan, gak apalah, yang mutlak sanggup berhasil keluar.
Lalu aku lihat angkot menyeramkan itu terus melaju pelan, sampai kelanjutannya hilang ditelan gelap.
***
Balik kembali ke gw ya, Brii.
Sekian cerita kali ini, sampai jumpa kembali di lain kesempatan.
Tetap jaga kesehatan, agar sanggup terus merinding bareng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *