Hantu Gamelan di Sekolah – Masa sekolah adalah masa-masa paling indah.
Beragam pengalaman seru kita alami seperjalannya, juga pengalaman seram.

Hantu Gamelan di Sekolah

hantu-gamelan-di-sekolah

Malam ini gw akan cerita pengalaman pribadi, kejadian kala tetap SD.
Simak yuk, di sini,
#Briikecil
***
Kejadian ini sudah lama, namun gw tetap sangat ingat detilnya. Terjadi kala tetap SD, kejadian seram yang terjadi di gedung sekolah.
Seperti yang sudah sering kali bilang, kalau gw lahir dan besar di kota Cilegon, Banten, juga daerah paling ujung barat pulau Jawa. Di Cilegon ini mental gw banyak ditempa dalam segala hal, juga mistis dan perhantuan.
Tumbuh kembang banyak dihiasi dengan peristiwa-peristiwa yang sangat kesulitan untuk masuk di logika.
Aneh, sangat banyak keanehan, namun begitu adanya, gak tidak cukup gak lebih.
Salah satunya ya momen yang akan gw ceritakan malam ini..

Gw sekolah di Sekolah Dasar yang dapat dibilang salah satu sekolah unggulan di Cilegon, mungkin dapat juga dibilang sekolah anak pejabat dan petinggi perusahaan, meskipun keluarga gw bukan juga keluarga pejabat, biasa aja.
SD gw ini kala itu tetap punyai lahan yang sangat luas dengan beragam macam fasilitas, berasal dari layanan olah raga hingga kesenian, hampir semua ada.
Kalau layanan kesenian, sekolah punyai bervariasi alat musik, berasal dari yang modern hingga tradisional. Alat musik tradisional yang kita punyai adalah kulintang, angklung, dan gamelan Jawa.
Nah, kisah gw malam ini akan mengkaji mengenai alat musik tradisional yang tersedia di sekolah, yaitu gamelan jawa itu tadi.
Sekolah punyai bukan cuma satu atau dua alat musik gamelan, namun set lengkap, berasal dari gendang kecil dan yang besar, bonang, kenong, gong kecil hingga yang besar banget, sepenuhnya ada, mohon dikoreksi kalau gw salah menyatakan nama-namanya.

Gw baru jelas kalau sekolah punyai alat gamelan itu kalo gak salah kala sudah kelas 4, kenapa begitu? Karena sekolah gw ini bentuknya bukan satu gedung besar sendiri yang semua kelas-kelasnya menjadi satu dalam satu gedung,
gak gitu, namun tiap tiap kelas letaknya terpisah-pisah, menjadi seperti perumahan dalam satu komplek, jelas ya?
Nah, mungkin sebab posisi ruang kelas satu dua dan tiga itu agak jauh berasal dari ruang guru, jadinya gw sangat jarang lewat atau jadi masuk ke ruang guru.
Lah? Apa hubungannya serupa ruang guru? Karena alat musik gamelan ini tempatnya berada di dalam ruangan yang letaknya tersedia di belakang ruang guru, menjadi kalau sudi masuk ke ruang gamelan harus lewat ruang guru dulu.

Begitulah..
Setelah kelas 4, baru gw jelas kalau ternyata sekolah punyai alat musik gamelan, sebab letak ruang kelas 4 itu sudah berada agak jauh berasal dari gerbang sekolah, kalau sudi ke ruang kelas kita harus lewat depan ruang guru dulu.
Itu juga sebab tersedia pentas seni yang menampilkan pertunjukkan gamelan, dimainkan oleh kakak kelas, yang akhirnya gw jelas kalau tersedia alat musik gamelan di sekolah.
Sampai akhirnya, sejalan berjalannya waktu, gw mengalami kejadian seram tentang dengan alat musik gamelan ini.
***
Gw juga anak yang rajin, kalau pernah sekolah masuk jam 07.15, gw sudah hingga di sekolah jam 1/2 tujuh, atau lebih kurang itulah. Intinya, gw adalah seringkali menjadi murid pertama yang hingga di sekolah, ini valid, hehe.

Ya sebab sering datang pertama itulah, jadinya kala gw datang sekolah tetap kosong, sangat kosong, cuma sesekali terlihat Pak Pur, penjaga sekolah, yang sedang menyapu, selebihnya ya belum tersedia siapa-siapa.
Sampai pada suatu hari, kala tetap kelas empat, tersedia kejadian aneh yang gw alami.
Waktu itu seperti biasa kala hingga di sekolah tetap sangat sepi, kosong.
Pasti banyak berasal dari kita yang sering merasakan situasi di gedung atau lingkungan sekolah yang kosong, sepinya beda, sisa-sisa hening dan gelapnya sekolah kala malam tetap terasa.
Dengan tas gendong di punggung, lengkap dengan termos air minum, Gw terjadi dengan dorongan berasal dari gerbang menuju lingkungan ruang kelas,
masih merasakan sejuknya udara pagi, hamparan embun menempel akrab dengan hijaunya rumput luas lapangan olah raga, sinar mentari tetap berbentuk garis-garis warna cerah menembus celah pepohonan.
Perjalanan yang hampir satu jam terjadi kaki berasal dari tempat tinggal mengakibatkan tiap tiap harinya gw akan segera menuju ruang kelas untuk menyimpan tas dan istirahat sebentar.
Perjalanan berasal dari gerbang menuju ruang kelas, gw harus melewati banyak ruang kelas terutama dulu, lewat di depannya, berasal dari ruang kelas satu, kelas dua, kelas tiga, baru setelah itu akan hingga di depan ruang guru.
Cukup jauhlah jarak yang harus ditempuh, dan ya itu tadi, semua kelas yang gw lewati hampir tiap tiap kala gw lewat pasti tetap dalam situasi kosong.
Sampai akhirnya gw hingga di depan ruang guru.
Ruang guru besar memanjang, pintu dan dinding depannya berbahan kaca, menjadi kalau tirainya gak ditutup gw dapat memandang ke dalamnya.

Waktu itu ruang guru tetap dalam situasi gelap namun tirainya sudah terbuka, gw yang terjadi melintas di depannya menjadi dapat melirik ke dalam.
Langkah kaki tetap terus berjalan, menuju ruang kelas gw, kelas 4A.
Sampai akhirnya, di sepi dan kosongnya suasana, tersedia yang menarik perhatian.
Gak melihat, namun gw mendengar sesuatu..
Langkah menjadi melambat mendengar nada itu.
*Suara apa sih Brii?
Suara gamelan, gw mendengar nada gamelan, tersedia yang sedang memainkan alat gamelan.
Waktu itu gw sudah jelas kalau di belakang ruang guru tersedia ruangan kembali yang isinya adalah semua musik tradisional, juga set lengkap alat gamelan.
Yang gw dengar bukan lantunan musik gamelan dengan banyak alat yang dimainkan, namun cuma satu alat yang berbunyi, yaitu bonang, yang gak jelas bonang itu apa silahkan gugling deh.
Bonang itu sekumpulan gong kecil yang diletakkan secara horizontal di dalam bingkai kayu, lebar satu atau dua baris, koreksi gw kalo salah ya.
Bonang ini bunyinya “Tung, tung, tung,tung..” seperti itulah kira-kira.
Yang gw dengar kala itu juga begitu, “Tung, tung, tung..”.
Penasaran, akhirnya gw berhenti pas di pintu kaca ruang guru.
Pintu kaca ini sudah dalam situasi terbuka, kenapa terbuka? Gw juga gak tahu.
Sementara nada gamelan tetap terdengar dengan irama sepinya, gw termenung heran sendirian.
Siapa yang pagi-pagi sudah main gamelan sendirian? Pak Pur kah? Mungkin..
Makanya, saking penasaran, akhirnya gw nekat untuk melangkah masuk ke ruang guru, untuk memandang ke dalam ruang di belakangnya, di mana gamelan berada.
Beneran, ruang guru tetap kosong, ruang besar memanjang itu cuma memuat banyak meja dan kursi, lemari buku dan berkas berderet menutup dinding ruangan, lampu tetap dalam situasi mati semua agar tetap gelap, cuma mengandalkan sedikit sinar pagi berasal dari luar.
Gw melangkah pelan lewat sela-sela meja, kala nada pukulan gamelan tetap terdengar satu-satu.
Ini siapa sih yang main gamelan? Itu pertanyaan yang terus terlihat di kepala..
Sampai gw akhirnya sudah pas berada di depan pintu, pintu yang menghubungkan ruang guru dengan ruang gamelan.
Pada kala ini gw tetap berdiri diam, gak berani untuk mengintip ke dalam, apa kembali mendorong pintu membukanya.
Mengintip ke dalam? Iya, sebab kala itu pintu gak tertutup, namun sedikit terbuka, mengakibatkan celah yang sepertinya dapat bikin gw untuk mengintip. Tapi gak berani, sebab musik gamelan tetap terus saja berbunyi, seram? Iya, takut? Iya.
Cukup lama gw berdiri di depan pintu, berpikir dalam cemas, namun penasaran.
Sampai akhirnya, tersedia nada yang sungguh sangat mengagetkan gw.
“Brii, ngapain di situ sendirian?”
Ternyata Pak Pur, dia sudah berdiri di pintu ruang guru. Ah, ngagetin aja Pak Pur ini..
Gw selanjutnya balik badan dan melangkah menuju beliau.
“Ada bunyi gamelan Pak, siapa yang main gamelan pagi-pagi? Emang sudah tersedia yang dateng?” Tanya gw ke Pak Pur kala sudah berada dekat dengannya.
“Ah anda salah denger kali, gak tersedia yang main gamelan. Sudah sana ke kelas, aku sudi bersihin ruang ini dulu.”
Tapi setelah kemunculan Pak Pur ini nada gamelan tiba-tiba berhenti, gak kedengaran lagi.
“Lain kali, kalau dengar atau memandang apa-apa berasal dari ruang itu, jangan anda samperin ya, biarin aja, jangan ya.”
Pak Pur mewanti-wanti seperti itu, entah apa maksudnya. Gw cuma mengangguk-angguk setelahnya.
Percakapan singkat dengan Pak Pur itu pasti saja sangat mengakibatkan pertanyaan dalam benak, lah jelas-jelas gw mendengar nada gamelan, kok Pak Pur bilang gak tersedia siapa-siapa, disempurnakan ujungnya melarang gw ke ruang gamelan, aneh kan.
Ya sudah, setelah itu gw segera menuju ruang kelas.
Gak lama kemudian, anak-anak lain merasa berdatangan, sekolah yang tadinya sepi berangsur ramai. Lalu kala meremehkan kejadian aneh yang gw alami pagi tadi.
Setelah hari itu, lebih dari satu kali gw mengalami kejadian aneh menjurus seram tentang dengan gamelan jawa itu, nanti kapan-kapan gw ceritakan satu persatu, gak malam ini, malam ini lebih dari satu aja.
***
Kejadian berikutnya, terjadi pada suatu malam.
*Malam-malam Brii?
Iya, malam-malam. Gw ingat kala itu sudah kelas lima, gw yang sudah beranjak besar punyai kebiasaan sering bermain hingga malam ke tempat tinggal salah satu rekan sekelas, Doni namanya.
Doni ini rumahnya di belakang gedung sekolah, namun agak jauh, lebih kurang dua kilometer jaraknya.
Tapi kalau pulang berasal dari tempat tinggal Doni, gw harus lewat sekolah gw itu dulu, harus, sebab gak tersedia jalan lain yang lebih dekat.
Pada malam itu gw keasyikan di tempat tinggal Doni, agar baru pulang lebih kurang jam sembilan malam, dan kala itu gw sudah merasa biasa naik sepeda.
BMX silver yang paling disayangi gw kayuh menyusuri jalan setapak di belakang sekolah, melewati jembatan besi yang seram.
Btw, di jembatan besi inilah pertama kalinya gw memandang sosok kuntilanak, pernah gw ceritain di thread lama, silahkan cari di “Likes”.
Singkat cerita, akhirnya gw hingga pas di depan sekolah.
Ya sebab sudah malam, lingkungan sekolah sudah pasti kosong. Dari luar pagar, gw memandang lampu-lampu yang menyala cuma lampu besar di depan ruang guru, dan lebih dari satu lampu taman.
Jalur lintasan sepeda lewat identik di depan lapangan upacara, di belakang lapangan upacara ini tersedia tangga melebar berasal dari kanan ke kiri, di atas tangga tersedia lantai luas yang pas di belakangnya letak ruang guru berada, jelas ya?
Makanya berasal dari lintasan sepeda gw tetap dapat memandang depan ruang guru meskipun berasal dari kejauhan.
Gw yang seharusnya cepat pulang, jadi melambatkan kayuhan kala sudah pas berada di depan sekolah, melambat dan akhirnya benar berhenti.
Kenapa? Karena gw memandang panorama aneh.
*Pemandangan aneh apa Brii?
Yang pertama, gw memandang kalau pintu ruang guru dalam situasi terbuka, namun tirainya tertutup semua.
Yang kedua, gw memandang tersedia lebih dari satu orang yang sedang terjadi berbaris beriringan dengan menggendong suatu hal di tangannya.
Curiga? Jelaslah,
Awalnya gw pikir mereka itu maling, namun lebih dari satu belas detik lantas pikiran gw berubah.
Bukan, sepertinya bukan maling, sebab mereka terjadi berasal dari ruang-ruang kelas sebelah kanan menuju ruang guru, selanjutnya masuk ke dalamnya. Tapi, apa yang sedang mereka gendong?
Setelah gw perhatikan, orang-orang itu berpakaian khas jawa, yang laki-laki mengenakan kain dan pakaian jawa lengkap dengan blangkon, kala tersedia satu perempuan mengenakan kebaya lengkap dengan sanggulnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *