Lantunan Duka di Kamar Mandi

Kamis Horor: Lantunan Duka di Kamar Mandi – Narasi horor ini berasal dari cerita liburan aku bersama sahabat sebagian durasi kemudian. Dikala itu aku serta sahabat berencana berangkat ke suatu tepi laut selatan Jawa yang sedang belum dikenal banyak orang. Tempatnya yang belum terkenal membuat tepi laut itu tidak memiliki banyak hotel. Sehabis membikin- bikin, kita menciptakan kediaman penanda yang bertuliskan,“ Penginapan Melati”. Astaga, nyatanya terdapat penginapan di kota ini.

Sejenak penginapan itu tidak berlainan dengan penginapan ataupun hotel ekonomis. Bangunannya juga tidak sangat berumur, walaupun cat dindingnya kira- kira kumal sebab tidak sempat dicat balik. Istimewanya lagi, penginapan itu tidak mempunyai resepsionis, melainkan seseorang bunda belia yang tiba pagi serta kembali malam buat menyongsong tamu- tamu. Beliau juga berkata jika tidak terdapat karyawan yang menginap di penginapan, sebab karyawan bersih- bersih juga cuma tiba di pagi hari serta kembali di hari yang serupa.

Tetapi, sebab aku bersama sahabat yang totalnya berjumlah 6 orang, kita juga tidak sedemikian itu merasa khawatir menginap di penginapan itu tanpa pengawal penginapan. Apalagi buat mengirit bayaran penginapan, kita menyudahi menginap sekalian di satu kamar yang serupa, dengan memesan banyak ekstra bed.

Tidak terdapat perasaan ngeri ataupun abnormal dikala masuk ke penginapan itu. Penginapan itu simpel serta lumayan kecil, cuma dekat 10 kamar, dengan konsep 2 lantai. Di tiap kamar telah diadakan kamar mandi kecil dengan jenis shower.

Kamis Horor: Lantunan Duka di Kamar Mandi

Cerita horor Sebab lagi liburan, pastinya kita tidak langsung tidur. Tidak hanya ngobrol ngalor- ngidul, salah satu sahabat mulai memiliki ilham buat menceritakan horor. Di tengah- tengah narasi horor seperti itu salah satu sahabat saya– sebut saja namanya Dani permisi ke kamar kecil. Bisa jadi sebab sedemikian itu larut dengan narasi- narasi horor dari sahabat yang lain, aku tidak memerhatikan jika Dani menghabiskan durasi yang lama di kamar kecil. Sehabis kurang lebih 2 jam di dalam kamar kecil, beliau juga terkini pergi.

Kala kita menanya, kenapa beliau menghabiskan banyak durasi di dalam kamar kecil, Dani cuma menanggapi jika beliau memandang penunggu kamar lain dari jendela kamar mandi. Beliau memandang seseorang ayah lagi berdiri di jendela. Tetapi, sepanjang 2 jam ayah itu cuma berdiri menyamping di jendela tanpa beranjak. Dani yang melihatnya juga merasakan perihal yang tidak lezat tetapi tidak dapat membebaskan pemikirannya dari ayah itu.

Aku tidak meletakkan atensi besar pada narasi Dani, sebab aku tidak percaya beliau berkata perihal yang sebetulnya. Dapat saja beliau menelepon pacarnya di kamar kecil, tanpa ingin kedapatan oleh kita. Tetapi, seusai Dani menceritakan, kesempatan aku yang mengenakan kamar kecil serta jujur saja, atmosfer kamar kecil itu membuat perasaan aku tidak lezat. Tidak tahu kenapa, tetapi mata aku langsung memandang pergi jendela kamar mandi serta memandang kamar melintas yang bagi Dani, terdapat seseorang bapak- bapak berdiri di jendela kamar itu

Aku tidak memandang seseorang juga serta jendela kamar sisi hitam sekali, tanda- tanda penunggu kamar telah memadamkan lampu serta tidur.

Keajaiban malah dirasakan oleh kita seluruh keesokan harinya. Dikala itu aku lagi mengantri buat mandi. Kala datang kesempatan aku, aku juga masuk ke dalam kamar mandi serta menghidupkan shower. Anehnya, dikala shower dihidupkan aku seketika mengikuti suara orang memanggil julukan aku. Tidak cuma memanggil julukan aku, aku pula mengikuti suara itu menyanyikan lagu jawa.

Berasumsi jika sahabat lagi mengerjai aku, shower juga aku matikan serta aku berteriak pada sahabat buat menyudahi memanggil julukan aku. Tetapi, mereka cuma tersimpul serta mengatakan tidak mengerjai aku. Kebimbangan, aku juga menghidupkan shower kembali serta lagi- lagi! Suara lantunan itu terdengar nyata.

Aku matikan kembali shower itu serta berteriak memerintahkan sahabat bungkam. Aku sedang berasumsi jika mereka lagi mengerjai aku. Kali ini bukan cuma aku yang bimbang, sahabat aku juga mulai bimbang. Duh, kali ini bukan rasa marah tetapi rasa khawatir yang membuat aku ragu buat menghidupkan shower. Aku juga memilah buat mencuci wajah serta sikat gigi saja, dan memerintahkan sahabat aku yang lain buat mandi.

Anehnya, sahabat aku yang mandi sehabis aku pula merasakan perihal yang serupa. Beliau berterus terang mengikuti seorang memanggil namanya serta bersenandung dikala beliau menghidupkan shower. Kali ini kita seluruh telah kekhawatiran. Dengan tergesa- gesa kita membereskan seluruh busana serta bernazar buat langsung check- out dari penginapan.

Kala kita pergi kamar, aku memandang kamar di melintas tempat Dani serta aku memandang bapak- bapak terbuka pintunya. Dikala itu seluruh orang memandang seseorang ayah berumur lagi merokok sembari memandang kita. Terdapat yang menyeramkan dari metode memandang si ayah yang tatapannya sedemikian itu kosong.

Bukan cuma si ayah, di kamar sisi ayah itu juga kita memandang seseorang bunda berumur lagi membuka jendela. Di sebelahnya lagi terdapat 2 orang anak muda lagi pergi dari pintu kamar. Loh, mengapa seketika banyak sekali orang yang menginap di penginapan ini, betul? Sementara itu durasi kita check- in kemarin, bunda yang jadi resepsionis mengatakan kalau tidak terdapat orang lain yang menginap di penginapan itu tidak hanya kita.

Tidak ingin ambil permasalahan, kita langsung turun mengarah meja resepsionis, tetapi bunda belia yang melindungi resepsionis itu tidak terdapat. Atmosfer jadi amat tidak lezat. Rasanya bulu gitok kita seluruh merinding. Tidak ingin lama kita juga langsung pergi dari lobi penginapan, berasumsi buat meletakkan kunci kamar di meja resepsionis saja. Terkini saja kita pergi pintu penting, kita memandang bunda belia yang jadi resepsionis penginapan itu tiba dari pintu pagar penginapan.

Kita juga langsung membagikan kunci kamar, dikala Dani seketika mengatakan,“ Bu, hotelnya marak sekali betul hari ini?”

Anehnya sang bunda malah menanggapi,“ Ah, era, Dik? Yang nginep cuma kamu, kenapa.”

Loh, jadi banyak orang yang kita amati itu siapa, betul? Kemudian, kenapa seketika sang bunda resepsionis ini mesem menggerenyotkan bibir pada kita.

Yang aku ingat, aku langsung berpandang- pandangan dengan Dani serta sahabat lain. Benak kita cuma satu, langsung pergi dari penginapan itu saat ini pula!

Keajaiban tidak menyudahi di sana saja. Dikala kita berjalan mengarah stasiun buat alih kota, Dani warnanya luang beramah tamah dengan abdi di gerai kecil dekat stasiun. Bagi abdi itu, tidak terdapat penginapan di kota ini. Dikala Dani mengatakan julukan Penginapan Melati, sang abdi menatapnya dengan abnormal serta berkata jika penginapan itu telah tidak bekerja lagi semenjak tahun 1973.

Jadi, mulanya malam kita menginap di tempat apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *